A.
PENDAHULUAN
Kenakalan
remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani
prosesproses
perkembangan
jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanaknya. Masa kanakkanak
dan masa
remaja berlangsung begitu singkat, dengan perkembangan fisik, psikis, dan emosi
yang
begitu
cepat. Secara psikologis, kenakalan remaja merupakan wujud dari konflik-konflik
yang tidak
terselesaikan
dengan baik pada masa kanak-kanak maupun remaja para pelakunya. Seringkali
didapati
bahwa ada
trauma dalam masa lalunya, perlakuan kasar dan tidak menyenangkan dari
lingkungannya,
maupun
trauma terhadap kondisi lingkungannya, seperti kondisi ekonomi yang membuatnya
merasa
rendah
diri.
Kenakalan
remaja dapat dikategorikan ke dalam perilaku menyimpang. Dalam perspektif
perilaku
menyimpang masalah sosial terjadi karena terdapat penyimpangan perilaku dari
berbagai
aturan-aturan
sosial ataupun dari nilai dan norma social yang berlaku. Perilaku menyimpang
dapat
dianggap
sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan tegaknya sistem sosial.
Penggunaan
konsep
perilaku menyimpang secara tersirat mengandung makna bahwa ada jalur baku yang
harus
ditempuh.
Perilaku yang tidak melalui jalur tersebut berarti telah menyimpang.
Untuk
mengetahui latar belakang perilaku menyimpang perlu membedakan adanya perilaku
menyimpang
yang tidak disengaja dan yang disengaja, diantaranya karena pelaku kurang
memahami
aturan-aturan
yang ada. Sedangkan perilaku yang menyimpang yang disengaja, memang sengaja
dilakukan,
bukan karena si pelaku tidak mengetahui aturan, mungkin karena ingin
diperhatikan, cari
sensasi
atau latar belakang masalah lainnya.
Hal yang
relevan untuk memahami bentuk perilaku tersebut, adalah mengapa seseorang
melakukan
penyimpangan, sedangkan ia tahu apa yang dilakukan melanggar aturan. Hal ini
disebabkan
karena pada
dasarnya setiap manusia pasti mengalami dorongan untuk melanggar pada situasi
tertentu,
tetapi
mengapa pada kebanyakan orang tidak menjadi kenyataan yang berwujud
penyimpangan, sebab
orang
dianggap normal biasanya dapat menahan diri dari dorongan-dorongan untuk
menyimpang.
Masalah
sosial perilaku menyimpang dalam tulisan tentang “Kenakalan Remaja” bisa
melalui
pendekatan
individual dan pendekatan sistem. Dalam pendekatan individual melalui pandangan
sosialisasi.
Berdasarkan pandangan sosialisasi, perilaku akan diidentifikasi sebagai masalah
sosial apabila
ia tidak berhasil dalam melewati belajar
sosial (sosialisasi).
B.
KENAKALAN REMAJA SEBAGAI PERILAKU MENYIMPANG DARI REMAJA
Pada
dasarnya kenakalan remaja menunjuk pada suatu bentuk perilaku remaja yang tidak
sesuai
dengan
norma-norma yang hidup di dalam masyarakatnya. Beberapa ahli mengatakan :
a. Kartini
Kartono (1988 : 93) mengatakan remaja yang nakal itu disebut pula sebagai anak
cacat
sosial.
Mereka menderita cacat mental disebabkan oleh pengaruh sosial yang ada ditengah
masyarakat,
sehingga perilaku mereka dinilai oleh masyarakat sebagai suatu kelainan dan
disebut
“kenakalan”.
b. Dalam
Bakolak inpres no: 6 / 1977 buku pedoman 8, dikatakan bahwa kenakalan remaja
adalah
kelainan
tingkah laku / tindakan remaja yang bersifat anti sosial, melanggar norma
sosial, agama
serta
ketentuan hukum yang berlaku dalam masyarakat.
c. Singgih
D. Gunarso (1988 : 19), mengatakan dari segi hukum kenakalan remaja digolongkan
dalam dua
kelompok yang berkaitan dengan norma-norma hukum yaitu : (1) kenakalan yang
bersifat
amoral dan sosial serta tidak diantar dalam undang-undang sehingga tidak dapat
atau
sulit
digolongkan sebagai pelanggaran hukum ; (2) kenakalan yang bersifat melanggar
hukum
dengan
penyelesaian sesuai dengan undang-undang dan hukum yang berlaku sama dengan
perbuatan
melanggar hukum bila dilakukan orang dewasa.
Menurut
bentuknya, Sunarwiyati S (1985) membagi kenakalan remaja kedalam tiga tingkatan
;
1.
Kenakalan biasa, seperti suka berkelahi, suka keluyuran, membolos sekolah,
pergi dari rumah
tanpa pamit
2.
Kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan seperti mengendarai
mobil tanpa
SIM,
mengambil barang orang tua tanpa izin
3.
Kenakalan khusus seperti penyalahgunaan narkotika, hubungan seks diluar nikah,
pergaulan
bebas,
pemerkosaan dll. Kategori di atas yang dijadikan ukuran kenakalan remaja dalam
penelitian.
Tentang
normal tidaknya perilaku kenakalan atau perilaku menyimpang, pernah dijelaskan
dalam pemikiran
Emile Durkheim (dalam Soerjono Soekanto, 1985 : 73). dalam bukunya “ Rules
of
Sociological
Method” bahwa perilaku menyimpang atau jahat
kalau dalam batas-batas tertentu
dianggap
melanggar fakta sosial yang normal dan dalam batas-batas tertentu kenakalan
adalah normal
karena
tidak mungkin menghapusnya secara tuntas, dengan demikian perilaku dikatakan
normal sejauh
perilaku
tersebut tidak menimbulkan keresahan dalam masyarakat, perilaku tersebut
terjadi dalam
batas-batas
tertentu dan melihat pada sesuatu perbuatan yang tidak disengaja. Jadi
kebalikan dari perilaku yang dianggap normal yaitu perilaku nakal/jahat yaitu
perilaku yang disengaja meninggalkan
keresahan
pada masyarakat.
Istilah
keberfungsian sosial mengacu pada cara-cara yang dipakai oleh individu akan
kolektivitas,
seperti keluarga dalam bertingkah laku agar dapat melaksanakan tugas-tugas
kehidupannya
serta dapat memenuhi kebutuhannya. Juga dapat diartikan sebagai
kegiatan-kegiatan
yang
dianggap penting dan pokok bagi penampilan beberapa peranan sosial tertentu
yang harus
dilaksanakan
oleh setiap individu sebagai konsekuensi dari keanggotaannya dalam masyarakat.
Penampilan
dianggap efektif diantarannya jika suatu keluarga mampu melaksanakan
tugas-tugasnya,
menurut
(Achlis, 1992) keberfungsian sosial adalah kemampuan seseorang dalam
melaksanakan tugas
dan
peranannya selama berinteraksi dalam situasi social tertentu berupa adanya
rintangan dan
hambatan
dalam mewujudkan nilai dirinya mencapai kebutuhan hidupnya.
Keberfungsian
sosial kelurga mengandung pengertian pertukaran dan kesinambungan, serta
adaptasi
resiprokal antara keluarga dengan anggotanya, dengan lingkungannya, dan dengan
tetangganya
dll. Kemampuan berfungsi social secara positif dan adaptif bagi sebuah keluarga
salah
satunya
jika berhasil dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan, peranan dan fungsinya
terutama
dalam
sosialisasi terhadap anggota keluarganya.
C.PENYEBAB
TERJADINYA KENAKALAN REMAJA
Perilaku
‘nakal’ remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun
faktor dari
luar (eksternal).
Faktor
internal:
1. Krisis
identitas
Perubahan
biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk
integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua,
tercapainya
identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa
integrasi
kedua.
2. Kontrol
diri yang lemah
Remaja yang
tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan
yang tidak
dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang
telah
mengetahui
perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol
diri untuk bertingkah laku sesuai dengan
pengetahuannya.
Faktor
eksternal:
1. Keluarga
Perceraian
orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan
antar
anggota
keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di
keluarga
pun,
seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau
penolakan
terhadap
eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
2. Teman
sebaya yang kurang baik
3.
Komunitas/lingkungan/sekolah/ tempat tinggal yang kurang baik.
D.HAL-HAL
YANG BISA DILAKUKAN UNTUK MENGATASI KENAKALAN REMAJA
Mengatasi
kenakalan remaja, berarti menata kembali emosi remaja yang tercabik-cabik itu.
Emosi dan
perasaan mereka rusak karena merasa ditolak oleh keluarga, orang tua,
teman-teman,
maupun
lingkungannya sejak kecil, dan gagalnya proses perkembangan jiwa remaja
tersebut. Traumatrauma
dalam
hidupnya harus diselesaikan, konflik-konflik psikologis yang menggantung harus
diselesaikan,
dan mereka harus diberi lingkungan yang berbeda dari lingkungan sebelumnya.
Pertanyaannya
: tugas siapa itu semua ? Orang tua-kah ? Sedangkan orang tua sudah terlalu
pusing
memikirkan
masalah pekerjaan dan beban hidup lainnya. Saudaranya-kah ? Mereka juga punya
masalah
sendiri,
bahkan mungkin mereka juga memiliki masalah yang sama. Pemerintah-kah ? Atau
siapa ? Tidak
gampang
untuk menjawabnya. Tetapi, memberikan lingkungan yang baik sejak dini, disertai
pemahaman
akan
perkembangan anak-anak kita dengan baik, akan banyak membantu mengurangi
kenakalan
remaja.
Minimal tidak menambah jumlah kasus yang ada."
Kenakalan
remaja, merupakan salah si anak? atau orang tua? Karena ternyata banyak orang
tua yang
tidak dapat
berperan sebagai orang tua yang seharusnya. Mereka hanya menyediakan materi dan
sarana
serta fasilitas bagi si anak tanpa memikirkan kebutuhan batinnya. Orang tua
juga sering
menuntut
banyak hal tetapi lupa untuk memberikan contoh yang baik bagi si anak.
Sebenarnya kita
melupakan
sesuatu ketika berbicara masalah kenakalan remaja, yaitu hukum kausalitas.
Sebab, dari
kenakalan
seorang remaja selalu dikristalkan menuju faktor eksternal lingkungan yang
jarang
memperhatikan
faktor terdekat dari lingkungan remaja tersebut dalam hal ini orang. Orang
selalu
menilai
bahwa banyak kasus kenakalan remaja terjadi karena lingkungan pergaulan yang
kurang baik,
seperti
pengaruh teman yang tidak benar, pengaruh media massa, sampai pada lemahnya
iman seseorang.
Setelah
diketahui penyebab terjadinya kenakalan remaja, maka ada beberapa hal yang bisa
dilakukan
untuk
mengatasi kenakalan remaja adalah :
1.
Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau
diatasi dengan
prinsip
keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang
dewasa yang
telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil
memperbaiki
diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
2. Adanya
motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama.
3. Kemauan
orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang
harmonis,
komunikatif, dan nyaman bagi remaja.
4. Remaja
pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan
dengan
siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.
5. Remaja
membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman
sebaya
atau
komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.
6.
Pemberian ilmu yang bermakna yang terkandung dalam pengetahuan dengan
memanfaatkan
film-film
yang bernuansa moral, media massa ataupun perkembangan teknologi lainnya.
7.
Memberikan lingkungan yang baik sejak dini, disertai pemahaman akan
perkembangan anakanak
kita dengan
baik, akan banyak membantu mengurangi kenakalan remaja
8.
Membentuk suasana sekolah yang kondusif, nyaman buat remaja agar dapat
berkembang sesuai
dengan
tahap perkembangan remaja.
Sebagai
penutup, mari kita cermati film “aborsi” sebagai salah satu dampak pergaulan
bebas (yang
dilakukan
oleh remaja yang tidak bertanggungjawab pada janin yang dikandungnya) dan
bentuk
kenakalan
remaja (yang jelas melanggar norma agama dan masyarakat). Refleksikan.
Maknakan. Apa
penyebabnya? Apa solusinya? Apa janjimu
untuk dirimu, temanmu, keluargamu dan negaramu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar