Pada dasarnya kenakalan remaja merupakan suatu bentuk perilaku
remaja yang tidak sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku dalam masyarakat,
atau dapat juga dikatakan bahwa kenakalan remaja adalah suatu bentuk perilaku
yang menyimpang.
Definisi
lain dari kenakalan remaja adalah kelainan tingkah laku / tindakan remaja yang
bersifat anti social, melanggar norma social, agama, serta ketentuan hukum yang
berlaku dalam masyarakat
Menurut bentuknya, sunarwiyati S (1985) membagi kenakalan remaja ke dalam tiga tingkatan :
Menurut bentuknya, sunarwiyati S (1985) membagi kenakalan remaja ke dalam tiga tingkatan :
- Kenakalan
biasa seperti suka pergi keluar rumah tanpa pamit, membolos sekolah
keluyuran, dll,
- Kenalakan
yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan, seperti megendarai motor
tanpa sim
- Kenalaan
khusus seperti penyalahgunaan narkotika, hubungan sex diluar nikah, dll.
Dalam penelitian ini, kami menjelaskan kategori di atas sebagai ukuran
kenalkalan remaja.
- Pernah
dijelaskan dalam pemikiran emile durkheim bahwa perilaku menyimpang, dalam
batas-batas tertentu dianggap sebagai fakta sosiaal yang normal, dalam
bukunya “rules of sociological method” dijelaskan bahwa pada batas-batas
tertentu kenalkalan remaja adalah normal karena tidak mungkin menghapusnya
secara tuntas. Dengan demikian, suatu perilaku dianggap normal jika
perilaku tersebut tidak menimbulkan kekacauan atau keresahan dalam
masyarakat.
- Dilihat
dari latar belakangnya, salah satu penyebab dari kenakalan remaja adalah
kurangnya interaksi social khususnya dalam suatu keluarga seolainitu,
keberfungsian social dalam suatu masyarakat juga sangat dibutuhkan.
Penyebab terjadinya kenakalan remaja
Perilaku 'nakal' remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja
itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).
Faktor internal :
- Krisis
identitas
Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan remaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua. - Kontrol
diri yang lemah
Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku 'nakal'. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
Faktor eksternal :
- Keluarga
Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja. - Teman
sebaya yang kurang baik
- Komunitas/lingkungan
tempat tinggal yang kurang baik.
Dalam makalah ini saya mencoba untuk membagi kenakalan remaja
menjadi dua yaitu Penggunaan narkoba dan fenomena seks bebas. Berikut
penjelasanya.
Penggunaan Narkotika
Sebagaiperalihan dari masa anak menuju ke masa dewasa, masa remaja
merupakan masa yang penuh dengan kesulitan dan gejola, baik bagi remaja sendiri
maupun bagi orang tuanya. Seringkali karena ketidaktahuan dari orang tua
mengenai keadaan masa remaja tersebut ternyata mampu menimbulkan bentrokan dan
kesalahpahaman antara remaja dengan orang tua yakni dalam keluarga atau remaja
dengan lingkungannya.
Hal tersebut di atas tentunya tidak membantu si remaja untuk
melewati masa ini dengan wajar, sehingga berakibat terjadinya berbagai macam
gangguan tingkah laku seperti penyalahgunaan zat, atau kenakalan remaja atau
gangguan mental lainnya. Orang tua seringkali dibuat bingung atau tidak berdaya
dalam menghadapi perkembangan anak remajanya dan ini menambah parahnya gangguan
yang diderita oleh anak remajanya.
Sembilan puluh persen dari sekitar dua juta pecandu narkotika dan
obat-obat berbahaya (narkoba) adalah generasi muda, termasuk 25.000 mahasiswa.
Ada sebanyak 1.015 siswa di 166 SMU di Yogyakarta selama tahun 2004/2005
terlibat tindak penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang. Sedangkan
700 siswa sisanya ditindak dengan pembinaan agar jera, dan tidak mempengaruhi
teman lain yang belum terkena sebagai pengguna narkoba. Para siswa
penyalahgunaan narkoba tersebar di Jakarta Utara sebanyak 248 orang dari 26
SMU, Jakarta Pusat sebanyak 109 di 12 SMU, Jakarta Barat sebanyak 167 di 32
SMU, Jakarta Timur sebanyak 305 di 43 SMU dan Jakarta Selatan sebanyak 186 di
40 SMU. Kondisi diatas hanyalah gambaran kecil dari kenyataan yang berkembang
di masyarakat yang sebenarnya. Hal ini diperparah dengan tingginya angka
prevalensi HIV di kalangan pemakai narkoba suntik. Sebuah survei dari tahun
2002 sampai 2006 oleh Yayasan Hatihati, sebesar 45% dari pengguna jarum suntik
menderita HIV.
Berbagai Motivasi Dalam Penyalahgunaan Obat
• Motivasi dalam penyalahgunaan zat dan narkotika ternyata
menyangkut motivasi yang berhubungan dengan keadaan individu (motivasi
individual) yang mengenai aspek fisik, emosional, mental-intelektual dan
interpersonal.
• Di samping adanya motivasi individu yang menimbulkan suatu
tindakan penyalahgunaan zat, masih ada faktor lain yang mempunyai hubungan erat
dengan kondisi penyalahgunaan zat yaitu faktor sosiokultural seperti di bawah
ini; dan ini merupakan suasana hati menekan yang mendalam dalam diri remaja;
antara lain:
- Perpecahan
unit keluarga misalnya perceraian, keluarga yang berpindah-pindah, orang
tua yang tidak ada/jarang di rumah dan sebagainya.
- Pengaruh
media massa misalnya iklan mengenai obat-obatan dan zat.
- Perubahan
teknologi yang cepat.
- Kaburnya
nilai-nilai dan sistem agama serta mencairnya standar moral; (hal ini
berarti perlu pembinaan Budi Pekerti – Akhlaq)
- Meningkatnya
waktu menganggur.
- Ketidakseimbangan
keadaan ekonomi misalnya kemiskinan, perbedaan ekonomi etno-rasial, kemewahan
yang membosankan dan sebagainya.
- Menjadi
manusia untuk orang lain.
Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja:
- Kegagalan
mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau
diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak
mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya
dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya
gagal pada tahap ini.
- Adanya
motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama.
- Kemauan
orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang
harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja.
- Remaja
pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi
arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.
- Remaja
membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman
sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar